
Danau Telaga Ngebel Ngebel yang terletak di kecamatan Ngebel Ponorogo ini,Sekitar 25 km dari pusat kota Ponorogo. Bisa diambil melalui jalan raya Madiun-Ponorogo ke arah timur, bisa juga mulai ambil dari jantung kota Ponorogo. Kalau dari arah Surabaya atau MAdiun lebih dekat lewat kecamatan Dolopo Madiun.Sepertinya Pemkab Ponorogo serius dalam mengelola tempat wisata ini, terlihat dari banyaknya papan penunjuk arah menuju ke Telaga Ngebel di sepanjang perjalanan. Jalanan pun dibuat hotmix, meskipun tidak seluruhnya.
(foto : Dari pinggir timur Jam 06:05 Red: Grismai Studio)
Paling enak mencapai telaga ini tentu saja dengan menggunakan mobil pribadi. Saya belum tahu apakah ada angkutan umum yang menuju ke sana karena letaknya cukup terpencil. Berada di ketinggian 734 dpl (di atas permukaan laut), akses jalan menuju ke telaga ini cukup sempit dan terjal. Hati-hati jika kemampuan menyetir di pegunungan belum terlalu mahir. Akan ada tikungan menanjak dan berkelok-kelok. Saya jarang menggunakan gigi 1 kalau sedang naik gunung, tetapi di perjalanan ke Ngebel, ada lokasi yang memaksa saya menggunakan gigi 1.
Sejuk dan teduh. Itulah kesan pertama yang akan dilontarkan oleh siapa saja tatkala pertama kali memasuki kawasan Telaga Ngebel, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Berhamparkan air yang jernih nan tenang, telaga ini berhiaskan pohon-pohon tua di tepiannya. Indah, tentu saja. Dan ini bisa menjadi penawar lelah para wisatawan setelah mereka melewati jalan berliku, naik-turun, untuk menuju objek wisata ini.
Sembari menikmati pemandangan indah itu, angin gunung yang sejuk berhembus menelusup pori-pori. Berada di punggung Gunung Wilis, kawasan ini hampir setiap berselimut kabut. Pada pagi dan sore hari, gumpalan kabut ini akan menjadi pemandangan yang memesona. Saat itulah, gumpalan kabut itu menyentuh permukaan air telaga. ”Jika ingin melihat panorama Ngebel dengan pesona kabutnya, lihatlah pada pagi dan sore hari. Pada saat itulah Ngebel punya pesona yang luar biasa,” kata Mbah Kasmorejo, salah seorang sesepuh di Ngebel.
Saat ini, sepanjang bibir telaga dikelilingi jalan beraspal. Wisatawan bisa menikmati lekuk tubuh telaga yang indah itu dari berbagai sudut. Malah, kalau mau sedikit repot, wisatawan bisa naik jalan setapak dan masuk semak-belukar di atas bukit. Dari titik itu, keindahan Telaga Ngebel terhampar di bawah tatapan mata kita. Dari titik itu pula, Anda akan melihat angin gunung mempermainkan dedaunan pohon trembesi dan sono hingga menjilat-jilat permukaan air telaga.
Telaga seluas 148 hektare yang menjadi objek wisata andalan ‘kota reog’ Ponorogo ini, bisa dikata masih perawan. Betapa tidak, pembangunan sarana dan prasarana belum menyentuh objek wisata ini secara optimal. Bayangkan, di telaga yang luas ini hanya ada sebuah perahu. Juga, di bibir telaga ini hanya ada sebuah bangunan kecil semacam pendopo, sebagai tempat prosesi larung sesaji, di kala bulan Suro tiba. Sepanjang bibir telaga ini hanya dipenuhi warung-warung tradisional yang terbuat
dari gedhek (dinding bambu).
”Tapi, warung-warung itulah yang membuat Telaga Ngebel makin memesona dan alami,” kata Hari Muhammad Fachri, salah seorang wisatawan dari Jakarta, ketika berekreasi di Telaga Ngebel. Sayangnya, kata dia, untuk bisa bermalam di objek wisata ini tak ada hotel yang memadai. Hanya ada beberapa losmen sebagai tempat menginap, dengan fasilitas amat minimalis.
Selain panorama yang indah dan masih perawan, Telaga Ngebel juga kaya akan sumber alam,
utamanya air tawar bersih yang keluar dari
(foto : Dari pinggir barat Jam 06:30 Red: Grismai Studio)
sumber-sumber di dasar telaga sedalam kurang lebih 52 meter. Tanah subur di sekitar telaga ini juga menghasilkan aneka pohon buah berkualitas. Durian Ngebel, begitu kata orang, menjadi buah primadona kawasan ini. Selain buah berduri itu, tumbuh subur pula pohon manggis, nangka, dan tanaman perkebunan seperti cengkeh dan kopi. Menikmati keindahan panorama telaga sembari makan buah-buahan khas Ngebel adalah tujuan para wisatawan. ”Itulah cerita keindahan dan kenikmatan di Telaga Ngebel,” kata Fachri lagi.
Bukan itu saja keistimewaan Telaga Ngebel sebagai kawasan wisata. Selain lokasinya yang menarik, udaranya juga segar, bersih, dan dingin. Sebuah perpaduan alami yang memikat. Hal ini dimungkinkan karena Telaga Ngebel terhampar di atas lahan subur setinggi kurang lebih 734 meter di atas permukaan laut, dikelilingi empat bukit: Bukit Semampir, Tambak, Ngoro, dan Kumambang. Gunung Liman, yang menjulang tinggi, juga melatarbelakangi salah satu sudut telaga Ngebel.
Jika suatu kali berkesempatan melancong ke tempat ini, bisa jadi Anda akan terkesima melihat pohon-pohon trembesi yang telah berumur ratusan tahun. Begitu tuanya pohon-pohon itu sehingga akar-akarnya yang besar menyembul di atas permukaan tanah. Sepintas, pohon-pohon trembesi sepuh itu mirip bonsai-bonsai raksasa.
Dengan segala keindahannya, Telaga Ngebel saat ini menjadi tempat wisata favorit bagi masyarakat di wilayah Ponorogo dan daerah-daerah lain di Jawa Timur. Untuk mereka yang hobi memancang, telaga ini juga memiliki daya tarik yang sangat kuat. Hanya di sinilah, para pemancing bisa mendapatkan ngokngok, ikan khas telaga ini. Tak hanya ngokngok. Telaga Ngebel juga dihuni banyak ikan nila. Kira-kira, seperti apa paras ikan ngokngok? Ketimbang penasaran, sambangi saja Telaga Ngebel.